INTANI.ORG – Pinang menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan nasional. Potensi pasar yang terbuka lebar butuh dukungan besar dari stakeholder terkait.

Seperti yang disampaikan narasumber inspiratif webinar inspirasi bisnis Intani seri ke 76 dengan tema ‘Pinang Betara Jambi Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia’, Muhammad Saman bahwa untuk memenuhi permintaan ekspor petani pinang perlu di fasilitasi alat pengering dan akses pembiayaan.

“Saat ini kami dapat kontrak kerja sama dengan eksportir, kebutuhan mereka mencapai 270 ton per bulan dengan harga kisaran 10.000 per kg. Kalau dihitung itu sudah berapa, jadi kami hanya mampu memenuhi sebagian kecil dari kebutuhan ekspor mereka,” terang Saman, yang juga ketua kelompok tani Mekar Hijau Rimbun III Betara, Tanjung Jabung Barat – Jambi, Rabu (29/06).

Saman menceritakan sejak 2010 budidaya pinang di lahan seluas 3 hektar, hingga saat ini sudah bisa mengelola lahan seluas 70 hetar bersama kelompok taninya. “Untuk satu hektar ada 1000 – 1100 pohon pinang dan saat ini sudah 85% panen. Pendapatan petani bisa mencapai 5 hingga 6 juta rupiah per hektar setiap panen,” ujar Saman.

Namun saat ini harga pinang sedang menurun, Saman mengatakan ini disebabkan karena terjadi krisis ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor seperti Bangladesh dan Nepal serta bertepatan dengan panen raya dinegara penghasil pinang lainnya.

Wakil ketua umum Bidang Perdagangan dan Industri KADIN Sumatera Barat, Marta Gunawan yang turut hadir dalam webinar mengamini apa yang disampaikan Saman. “Bangladesh menjadi jalur utama kami untuk ekspor pinang ke India, tapi di sana sedang krisis jadi stop permintaan pinang dari sana,” terangnya.

Marta menambahkan belum bisa ekspor langsung ke India karena import tax di sana terlalu tinggi. “Import tax India itu sangat tinggi mencapai 108%, berbeda dengan Bangladesh atau Iran hanya 20%. Jadi kalau permasalahan pajak ini bisa teratasi, selesai sudah ekspor pinang kita bisa maksimal”.

Sebagai penutup, Marta menyampaikan sangat berharap ada solusi segera untuk penyelesaian permasalahan pajak ini karena India merupakan pasar potensial selain China dan Timur Tengah.

Seperti yang juga disampaikan Aris Eko Sedijono, selaku host dan pengurus INTANI (Pekumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia) bahwa nilai ekspor pinang mencapai 5 triliyun rupiah di tahun 2021 dan masih terbuka lebar potensi pasar di berbagai negara lain.

Menanggapi hal tersebut ketua umum INTANI yang juga selaku asisten staf khusus Wakil Presiden RI, Guntur Subagja menyambut baik dengan adanya permasalahan yang disampaikan. “Informasi ini sangat bagus bagi kami dan terlihat potensi pasarnya seperti apa. Pastinya kami akan menjembatani untuk solusi regulasi pajak ini,” terang Guntur.

Guntur mengatakan akan membuatkan sesi khusus untuk mendiskusikan hal ini dengan stakeholder terkait. “Ini benar-benar potensi ekonomi yang besar, sebelum pandemi saja ekspor pinang kita mencapai 100.000 ton. Jadi dari Intani maupun sisi pemerintah akan membahas ini segera,” pungkas Guntur.

Webinar inspirasi bisnis Intani tayang secara daring via virtual zoom dan streaming di TANITV.*

LEAVE A REPLY